Kota pelajar itulah julukan dari
kota jogjakarta. Aku dan kawan-kawanku sekelas telah berkunjung ke sana, dalam
rangka perpisahan kelas. Sayangnya wali kelas kami tidak bisa mengantar kami, tapi
ada seorang guru yang rela meluangkan waktunya untuk ikut memandu kami saat di
Jogjakarta, beliau adalah Ibu Hilya.
Hari pertama, kami mengunjungi
candi prambanan. Di sana pengunjung diharuskan memakai sarung yang sudah disediakan
oleh panitia. Awalnya terasa sulit bagiku untuk memakainya karena aku hanya
terbiasa memakai sarung yang digunakan untuk sholat, bukan sarung yang biasa orang
hindu pakai untuk beribadah, seperti
sarung bermotif candi yang kami pakai pada saat masuk ke area wisata candi. Di
tempat wisata candi Prambanan ternyata terdapat juga candi sewu. Mungkin tidak
semua orang tahu bahwa di tempat wisata candi prambanan terdapat juga
candi-candi lainnya.
Tempat wisata selanjutnya yang
kami kunjungi adalah Istana Ratu Boko. Setibanya di sana, kami dihadapkan oleh
banyaknya anak tangga yang siap menuntun kami menuju tempat wisata di atas. Di
tempat wisata ini pengunjung juga diwajibkan memakai sarung. Setelah melewati
anak tangga yang cukup menguras tenaga. Kini terlihat perbedaan antara tempat
di atas dan di bawah. Di atas ternyata cukup indah dan cocok untuk berfoto ria
bersama kawan-kawan, ketimbang di bawah yang terlihat biasa-biasa saja.
Tidak lengkap rasanya bila pergi
ke kota Jogja tanpa mengunjungi keraton kesultanan Jogjakarta. Sayangnya pada
saat kami menuju ke keraton, cuaca tidak mendukung. Hujanpun mengguyur kota
jogja pada sore itu. Untungnya, sebelum berangkat kami membawa payung masing-masing
atas saran dari bu Hilya. Akhirnya kamipun masuk ke kesultanan jogja dengan
ditemani gemericik air hujan yang turun dari langit kota jogja. Di sana kami
melihat berbagai peninggalan kesultanan jogja dan foto-foto yang menjadi saksi
sejarah bagi kota Jogjakarta itu sendiri. Yang menjadi perhatian di benakku saat
di keraton adalah ayam yang dikurung di dalam sangkar laksana seekor burung.
Entah itu ayam siapa, tapi yang jelas kalau di daerah asalku tidak seperti itu
dan itulah yang membuatnya menjadi unik di mataku, mungkin itu adalah ciri khas
kota jogja.
Setelah puas berkutat di keraton kesultanan,
kami memutuskan untuk mengunjungi malioboro. Sebenarnya malioboro adalah nama
jalan di kota jogja, namun setiap wisatawan yang datang ke jogja pasti akan
berkunjung ke tempat ini, karena tempat ini merupakan pusat belanja bagi para
wisatawan. Karena jarak antara kesultanan dan malioboro tidak terlampau jauh,
kamipun memutuskan untuk berjalan kaki dengan membawa dompet yang terisi cukup
dan sambil cuci mata juga hehe. Dengan
kaki yang sudah sedikit lelah, kami berjalan melihat kiri kanan banyak pedagang
yang menjejerkan dagangannya. Setelah sekian lama berjalan, mataku tertuju pada
sebuah gedung yang tinggi besar, berwarna putih dan memiliki halaman yang luas.
Ternyata gedung itu adalah ‘Istana Negara’ mengingat Kota Jogjakarta pernah
menjadi ibu kota Negara Indonesia pada tahun 1946-1949. Sungguh beruntung bisa
melihat gedung itu yang menjadi saksi bisu sejarah kemerdekaan NKRI ini.
Setelah puas berbelanja di
malioboro, perutku mulai berdemonstrasi. Sebungkus nasi kucingpun tak sanggup
untuk meredam amarah perutku ini, akhirnya aku dan kawanku Andad memutuskan
untuk membeli sate di pinggir jalan. Dengan hanya merogoh kocek Rp. 5000 saja
kami sudah mendapat sate beserta lontongnya. Namun sesudah kami bertransaksi,
teman pedagang tersebut memanggil dan mengucapkan
“SATPOL PP.. SATPOL PP!”. kemudian pedagang sate itu hendak pergi
dan berjanji kepada kami dengan diiringi sumpah, bahwa dia akan kembali sambil
membawa sate pesanan kami tadi dan meminta kami untuk menunggu di tempat.
Kamipun hanya bisa terdiam dan pasrah menunggu. Dalam benak terasa bimbang,
apakah pedagang itu akan kembali atau pergi membawa uang kami. Kalau benar
pedagang itu tidak kembali, tega nian dia telah menelantarkan pembelinya yang
sedang kelaparan ini. Tapi tak apalah, lagi pula dia juga sudah bersumpah.
Jadi, resiko ditanggung sendiri nanti ketika di akhirat. Beberapa saat
kemudian, benar saja Satuan Polisi Pamung Praja pun lewat dengan menggunakan
mobil dinasnya. Ternyata pedagang itu benar pikirku. Beberapa menit setelah SATPOL
PP itu menghilang dari pandangan dan kamipun rasanya tidak kuat lagi menahan
rasa lapar ini. Akhirnya, pedagang itu pun kembali dengan membawa sate pesanan
kami. Kejadian itu sontak membuatku merinding, betapa susahnya mencari sepeser
uang, dengan berbagai macam cara manusia mempertahankan hidupnya hanya untuk
sesuap nasi.
Suasana malam di malioboro
sangatlah indah dengan sorotan lampu yang menggoda dan aroma khas jogja yang
memikat, membuatku tidak ingin meninggalkan malioboro ini. Namun apadaya, rasa
lelah yang menghinggapi kami tak kuasa mengabulkan keinginanku itu. Akhirnya
kami menginap di rumah kawanku ‘Lala’ yang
berada di Jogja. Sungguh beruntung kami mempunyai sahabat seperti Lala. Setelah
seharian penuh kami melakukan perjalanan ke empat lokasi di hari pertama, kami
harus beristirahat untuk perjalanan selanjutnya.
Hari ke dua, kami mengunjungi
taman sari. Tempat wisata ini merupakan
istana air peninggalan pangeran Mangkubumi atau yang dikenal dengan Sultan
Hamengku Buwono I. Gemericik air dan keindahan arsitekturnya yang kuno, dan
pemandangan yang menakjubkan membuat taman sari sangat mempesona. Tidak heran
jika ada orang yang memanfaatkannya sebagai background untuk foto pra wedding.
Saat kami masuk, gemericik air langsung menyapa. Airnya yang jernih berpadu
apik dengan tembok-tembok krem gagah yang mengitarinya. Kolam pemandian di area
ini dibagi menjadi tiga yaitu Umbul Kawitan (kolam untuk putra-putri Raja), Umbul
Pamuncar (kolam untuk para selir), dan Umbul Panguras (kolam untuk Raja).
Sayangnya, sebagian bangunan di tempat ini runtuh akibat gempa yang melanda
Kota Jogjakarta pada tahun 2006 silam. Tapi itu tidak menyurutkan keindahan
arsitektur bangunan tersebut yang konon dibangun hanya dengan putih telur saja
sebagai perekatnya. Pesona air yang apik dan tembok-tembok yang bergaya kuno menjadi
nilai yang membuat taman sari tak akan terlupakan.
Tujuan kami sebenarnya datang ke
Jogja adalah untuk mengunjungi universitas yang ada di Jogja seperti UGM, UIN
JOGJA dan UNY. Tetapi karena waktu kami terbatas dan kami juga datang tidak
resmi jadi kami hanya bisa lewat depan kampusnya saja. Sayangnya kami tidak
bisa melihat kampus UNY juga karena alasan waktu. Universitas yang pertama kami
lewati adalah UIN JOGJA. Sebelum terlihat gedungnya yang pertama terlihat
adalah atapnya yang bertuliskan ‘UIN’ ketika bus kami tepat akan melewati
kampus UIN JOGJA. Universitas selanjutnya adalah UGM. Karena pada hari itu
bertepatan dengan hari jum’at, maka kami kaum lelaki akan melaksanakan sholat
jum’at. Dan beruntung kami bisa sholat jum’at di masjid agung UGM. Apa jadinya
bila pada hari itu bukan hari jum’at, mungkin kami hanya bisa melihat UGM dari
balik kaca bus yang kita naiki. Yang lebih beruntung lagi yaitu cewek-cewek, saat kami pergi sholat. Eh, mereka malah pergi jalan-jalan ngliat fakultas-fakultas yang ada di UGM,
sambil foto-foto lagi. Tapi tak
apalah, yang penting bisa sholat jum’at di UGM hehe. Setelah puas melihat banyaknya fakultas dan luasnya
Universitas UGM dari balik kaca, mungkin luasnya ada kali yah sekecamatan? Haha.
Kamipun melanjutkan perjalanan.
Objek ke tiga yang kami kunjungi
di hari ke dua adalah tempat wisata Candi Borobudur. Seperti halnya di Ratu
Boko dan Candi Prambanan, kami di haruskan memakai sarung yang bermotif candi
lagi. Sungguh beruntung kami berkunjung ke Borobudur, karena disana akan di
selenggarakan festival internasional pada hari itu. Setelah selesai mengambil
gambar di area sekitar Candi dengan sudut yang bagus ala bu Hilya, akhirnya
kami menuju tempat di mana di selenggarakanya Festival itu. Namun sayangnya,
pada saat kami sampai di sana ternyata mereka sedang geladi resik, acara yang sebenarnya dimulai
malam harinya. Karena kami terbatas
dengan waktu, akhirnya kami
meninggalakan candi Borobudur dengan sedikit rasa kecewa. Walaupun
begitu, rasa bahagia masih tersisa banyak hehe.
Akhirnya, kamipun meninggalkan kota Jogjakarta dengan membawa oleh-oleh
bakpia dan kembali ke kota Cirebon untuk melanjutkan perjuangan kami menuntut
ilmu.
Sedikit bercerita tentang kota
Jogjakarta menurut pengalamanku sendiri. Kota Jogja itu kota yang bersih, kota
yang masih terjaga budayanya, Kota yang terkenal dengan gudeg dan bakpianya,
kota yang banyak dikunjungi wisatawan, juga kota dengan lalu lintas yang rapih,
terbukti di persimpangan-persimpangan jalan kota Jogja pasti terdapat yang namanya
‘lampu merah’. Sampai-sampai lampu merah tersebut ber-timer yang kadang membuat kami jengkel, terutama sopir bus kami.
Walaupun begitu, kota Jogjakarta merupakan kota yang mempunyai keunikan dan
daya tarik tersendiri. I love Jogja.^^


Posting Komentar