“ Setelah
sekian lama akhirnya ku kembali menulisakan kata-kata yang tak bermakna ini.
Beberapa pelajaran hidup terlewati dengan hati yang tegar. Banyak hal yang
menarik dalam perjalanan tak sanggup tertuliskan dalam catatan kusut ini.
Sedih, bahagia, suka,
cita maupun duka tercampur aduk menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan
dalam hidup ini. Membiasakan tersenyum dengan tenang walaupun hati ini
meneteskan air mata haruslah dipelajari dan dibiasakan. Karena untuk apa kita
selalu diliputi kesedihan jika kita selalu mengerutkan dahi. Untuk apa kita
mempermasalahkannya kalau kita sudah berkata apa adanya dan jujur dengan
sejujur-jujurnya terhadap apa yang kita lakukan, dan mereka malah menganggap
mu sebagai sampah yang berada pada tempat yang sehina-hinanya.
Apakah mereka
tidak berpikir? Bahwa bagaimana jikalau diri mereka mersakan hal yang sama
seperti itu.
Mereka seharusnya berpikir demikian, tapi malah mereka tertawa
dengan lebar seolah-olah mereka sedang menonton sebuah komedi yang mengocok
perut mereka. Sungguh sangat menyakitkan. ”
Apa yang akan kau rasakan bila
kau diacuhkan oleh sahabat-sahabatmu? Tentunya kamu akan merasakan sakit bukan?
Apakah kita ini mempunyai salah dengan mereka? Lalu kesalahan apa yang membuat
mereka bersikap seperti itu kepada kita?
Di sinilah kita belajar rasa atau
kata para santri biasa menyebutnya ‘Ngaji Rasa’ dimana kita bisa mempelajari apa
yang dirasakan oleh mahluq/orang lain melalui diri kita sendiri.
Ketika pada saat diri kita tidak
nyaman dengan sikap orang lain perhatikanlah sikap orang lain itu dan
berpikirlah. Jikalau kita melakukan hal seperti itu kepada orang lain mungkin
orang lain juga akan merasakan hal yang sama. Jadi kesimpulannya adalah jangan
melakukan perbuatan yang kita tidak senangi kepada orang lain. Awali dulu dari
diri kita sendiri kemudian orang lain. J

Posting Komentar