Kamis, 03 April 2014

Tergantung Niatnya

Pada saat kita berniat akan melakukan sesuatu adakalanya situasi dan kondisi tidak mendukung. Padahal sudah kita persiapkan matang-matang apa yang akan kita kerjakan nanti. Pasti ada rasa kecewa yang menempel di benak kita. Pernah bukan?. Namun, apadaya kita hanya bisa berusaha Allah lah yang menentukan.


Jadi, kita harus terima apa adanya kondisi yang ada dan berpikir kembali untuk rencana baru atau rencana B karena rencana A sudah gagal. Ciaat kayak detektif hehe. Kita harus selalu berinovasi demi kemajuan diri kita. Berinovasi yang baik, hal-hal yang telah gagal kita telaah lagi di mana letak kesalahannya kemudian kita perbaiki dan menambahkan sesuatu yang dianggap kurang tadi dengan sesuatu yang baru.

Seperti halnya seseorang yang sedang memasak sayur, apakah garamnya kurang atau berlebihan. Jikalau kurang maka tambahkanlah garamnya. Tapi, jikalau berlebihan atau terlalu asin maka jangan kau kurangi garamnya karena kau tak bisa mengurangi garam yang terlarut dalam sayur, kalaupun bisa itu akan sulit untuk dilakukan. Tapi yang harus dilakukan adalah apa? Tau gak? Yang harus dilakukan adalah menambahkan airnya. Bener gak? Hehe.

Setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya. Jikalau kita akan melakukan suatu pekerjaan dengan berniat baik maka perbuatan itu dikategorikan baik juga. Iya gak?. Nah, apabila kita melakukan suatu kebaikan tetapi niat kita tidak baik maka amal yang kita kerjakan itu sesuatu yang buruk. Buat apa kita melakukan kebaikan kalo niatnya gak baik, iya gak? Sesuatu perkara yang baik harus diimbangi dengan yang baik juga. Bukannya diimbangi dengan perkara yang jelek. Gitu looh.

Lain halnya dengan berbohong. Berbohong sebenarnya adalah perbuatan yang dilarang. Tapi, jikalau berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan. Kenapa boleh?? Boleh asalkan karena untuk menghindari perkara yang buruk. Nih ilustrasinya, Langsung ke TKP:

Suatu hari ada seseorang pembunuh bayaran yang mengejar-ngejar sasaranya. Bukan nagih hutang looh ya -_-. Sebut saja sasarannya ini ‘Usman’. Si pembunuh bayaran ini menenteng golok di tangannya. Sehingga membuat si Usman ini lari terbirit-birit menghindari si Pembunuh tadi. Ngeri juga yaa. Sampai-sampai dia bertemu dengan seorang kakek sebut saja namanya ‘Udin’.

Usman          : Kek tolong saya kek, saya lagi dikejar-kejar seseorang (sambil ngos-ngosan)
Udin              : Kak kek kak kek.. emangnya saya udah tua apa?? (sambil mrongoos) Panggil mas dong  biar kece. Hehe.
Usman          : -_______- Iya deh.. mas tolong saya mas tolooong, saya lagi dikejar-kejar.. (lansung dipotong oleh udin)
Udin              : Dikejar-kejar siapaa!!!? :O bancii?? (sotoy)
Usman          : Bukaaaaan -_______- tapi dikejar pembunuh bayaran kek.. ehh mas maksudnya (sambil ketakutan)
Udin              : Apaaaaa!!!?? (lebaaay)
Usman          : iya Mas mohon tolong saya (memelas)
Udin              : Ya sudah, masuklah ke rumahku dan bersembunyilah, biar aku yang menghadapinya! (dengan gagah dan berani) Tapi, sebelumnya kamu sebutkan terlebih dahulu ciri-ciri pembunuhnya!

Setelah dia menceritakan ciri-ciri pembunuh itu kepada udin, usman pun bersembunyi di rumah si Udin. Tiba-tiba suasana menjadi tegang dan mencekam. Akhirnya pembunuh itu pun datang dan menghampiri si Udin. Kebetulan si Udin sedang menyapu di halaman rumahnya.

Pembunuh    : Ehemmm, punten kek.. tau seseorang yang lewat sini gak orangnya kurus, ceking agak item dikit?? (dengan halus)
Udin              : (pura-pura pikun) Mmmmm… tauu gak yahhh??
Pembunuh    : -______- Kakek sempruul (dalam hati)
Udin              : (loading……….) Ooohh iyaaa.. dia tadi lewat sana (menunjukan arah jalan).
Pembunuh    : Oh ya udah kek makasih ya.. -_____- saya permisi dulu.
Udin              : Tunggu dulu! Ngapain kamu nak.. bawa-bawa golok??
Pembunuh    : (deg deg) Oooh ini buat ngambil kelapa kek. Iyah orang yang tadi lewat itu minta di ambilin kelapa di rumahnya. Nah, saya gak tau dimana rumah dia kek. Hehehehe
Udin              : Bilang aja kepala, sompreet! (dalam hati)
Udin              : Uwwwaaah jangan-jangan kamu yah yang ngambil kelapa kakek di depan rumah! (sambil menunjuk pohon kelapa) liat tuh pada ilang kelapanya! Kurang ajaaar! (sambil memukulkan sapu ke badan pembunuh tadi)
Pembunuh    : Aduuuuh! Bukan saya kek! awww!
Udin              : Bukan bukan!!! Sudah jelas kamu yang bawa golok! Rasain nih! Ciiiiaattt!

Akhirnya terjadilah kejar-kejaran antara kakek Udin dan Pembunuh tadi. Si Usman pun selamat dari incaran pembunuh itu. Dia bersyukur dan berterimakasih pada kakek Udin yang telah menyelamatkannya. Namun, bagaimanakah dengan nasib si kakek Udin tadi?? Entahlah -__- .

Nah, dari cerita diatas dapat kita ambil kesimpulan. Bahwa berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan. Apa jadinya bila si Kakek Udin tadi memberi tahu yang sebenarnya klo si Usman sedang bersembunyi di rumahnya, bisa-bisa si Usman sudah habis dipenggal oleh pembunuh tadi. Bohong boleh untuk kebaikan tapi ingeeet, jangan dijadikan kebiasaan ya! Hehe.

Perkara yang buruk harus ditutupi oleh suatu perkara yang baik. Tapi, jikalau perkara yang baik ternodai sedikit saja oleh perkara yang buruk, perkara yang baik itu akan hilang. Menghilang ditelan bumi. Seperti peribahasa ‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’.

Oleh karena itu, alangkah baiknya sebelum melakukan sesuatu hendaknya kita berniat terlebih dahulu. Setelah berniat pasti ada ‘tekad’ yang mengiringi, bukannya ‘nekat’. Iya gak? ­;-)

About the Author

Unknown

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

Posting Komentar

 
irhi © 2015 - Designed by Templateism.com