Pada saat kita berniat akan melakukan sesuatu adakalanya
situasi dan kondisi tidak mendukung. Padahal sudah kita persiapkan
matang-matang apa yang akan kita kerjakan nanti. Pasti ada rasa kecewa yang
menempel di benak kita. Pernah bukan?.
Namun, apadaya kita hanya bisa berusaha Allah lah yang menentukan.
Jadi, kita harus terima apa adanya kondisi yang ada dan
berpikir kembali untuk rencana baru atau rencana B karena rencana A sudah
gagal. Ciaat kayak detektif hehe.
Kita harus selalu berinovasi demi kemajuan diri kita. Berinovasi yang baik,
hal-hal yang telah gagal kita telaah lagi di mana letak kesalahannya kemudian
kita perbaiki dan menambahkan sesuatu yang dianggap kurang tadi dengan sesuatu
yang baru.
Seperti halnya seseorang yang sedang memasak sayur, apakah
garamnya kurang atau berlebihan. Jikalau kurang maka tambahkanlah garamnya.
Tapi, jikalau berlebihan atau terlalu asin maka jangan kau kurangi garamnya
karena kau tak bisa mengurangi garam yang terlarut dalam sayur, kalaupun bisa itu
akan sulit untuk dilakukan. Tapi yang harus dilakukan adalah apa? Tau gak? Yang harus dilakukan adalah
menambahkan airnya. Bener gak? Hehe.
Setiap amal perbuatan itu tergantung niatnya. Jikalau kita
akan melakukan suatu pekerjaan dengan berniat baik maka perbuatan itu
dikategorikan baik juga. Iya gak?.
Nah, apabila kita melakukan suatu kebaikan tetapi niat kita tidak baik maka
amal yang kita kerjakan itu sesuatu yang buruk. Buat apa kita melakukan
kebaikan kalo niatnya gak baik, iya gak? Sesuatu perkara yang baik harus diimbangi dengan yang baik
juga. Bukannya diimbangi dengan perkara yang jelek. Gitu looh.
Lain halnya dengan berbohong. Berbohong sebenarnya adalah
perbuatan yang dilarang. Tapi, jikalau berbohong demi kebaikan itu
diperbolehkan. Kenapa boleh?? Boleh asalkan karena untuk menghindari perkara
yang buruk. Nih ilustrasinya, Langsung ke TKP:
Suatu hari ada seseorang pembunuh
bayaran yang mengejar-ngejar sasaranya. Bukan
nagih hutang looh ya -_-. Sebut
saja sasarannya ini ‘Usman’. Si pembunuh bayaran ini menenteng golok di
tangannya. Sehingga membuat si Usman ini lari terbirit-birit menghindari si
Pembunuh tadi. Ngeri juga yaa.
Sampai-sampai dia bertemu dengan seorang kakek sebut saja namanya ‘Udin’.
Usman : Kek
tolong saya kek, saya lagi dikejar-kejar seseorang (sambil ngos-ngosan)
Udin : Kak kek kak kek.. emangnya saya
udah tua apa?? (sambil mrongoos)
Panggil mas dong biar kece. Hehe.
Usman : -_______- Iya deh.. mas tolong saya
mas tolooong, saya lagi dikejar-kejar.. (lansung dipotong oleh udin)
Udin :
Dikejar-kejar siapaa!!!? :O bancii?? (sotoy)
Usman : Bukaaaaan -_______- tapi dikejar
pembunuh bayaran kek.. ehh mas maksudnya (sambil ketakutan)
Udin :
Apaaaaa!!!?? (lebaaay)
Usman : iya Mas
mohon tolong saya (memelas)
Udin : Ya sudah, masuklah ke rumahku
dan bersembunyilah, biar aku yang menghadapinya! (dengan gagah dan berani) Tapi,
sebelumnya kamu sebutkan terlebih dahulu ciri-ciri pembunuhnya!
Setelah dia menceritakan ciri-ciri
pembunuh itu kepada udin, usman pun bersembunyi di rumah si Udin. Tiba-tiba
suasana menjadi tegang dan mencekam. Akhirnya pembunuh itu pun datang dan
menghampiri si Udin. Kebetulan si Udin sedang menyapu di halaman rumahnya.
Pembunuh : Ehemmm, punten kek.. tau seseorang yang lewat sini gak orangnya
kurus, ceking agak item dikit?? (dengan halus)
Udin :
(pura-pura pikun) Mmmmm… tauu gak yahhh??
Pembunuh : -______- Kakek
sempruul (dalam hati)
Udin :
(loading……….) Ooohh iyaaa.. dia tadi lewat sana (menunjukan arah jalan).
Pembunuh : Oh ya udah
kek makasih ya.. -_____- saya permisi dulu.
Udin : Tunggu
dulu! Ngapain kamu nak.. bawa-bawa golok??
Pembunuh : (deg deg) Oooh ini buat ngambil kelapa
kek. Iyah orang yang tadi lewat itu minta di ambilin kelapa di rumahnya. Nah,
saya gak tau dimana rumah dia kek. Hehehehe
Udin : Bilang
aja kepala, sompreet! (dalam hati)
Udin :
Uwwwaaah jangan-jangan kamu yah yang ngambil kelapa kakek di depan rumah!
(sambil menunjuk pohon kelapa) liat tuh pada ilang kelapanya! Kurang ajaaar! (sambil
memukulkan sapu ke badan pembunuh tadi)
Pembunuh : Aduuuuh!
Bukan saya kek! awww!
Udin : Bukan
bukan!!! Sudah jelas kamu yang bawa golok! Rasain nih! Ciiiiaattt!
Akhirnya terjadilah kejar-kejaran
antara kakek Udin dan Pembunuh tadi. Si Usman pun selamat dari incaran pembunuh
itu. Dia bersyukur dan berterimakasih pada kakek Udin yang telah
menyelamatkannya. Namun, bagaimanakah dengan nasib si kakek Udin tadi?? Entahlah -__- .
Nah, dari cerita diatas dapat kita ambil kesimpulan. Bahwa berbohong demi kebaikan itu diperbolehkan.
Apa jadinya bila si Kakek Udin tadi memberi tahu yang sebenarnya klo si Usman
sedang bersembunyi di rumahnya, bisa-bisa si Usman sudah habis dipenggal oleh
pembunuh tadi. Bohong boleh untuk kebaikan tapi
ingeeet, jangan dijadikan kebiasaan ya! Hehe.
Perkara yang buruk harus ditutupi oleh suatu perkara yang
baik. Tapi, jikalau perkara yang baik ternodai sedikit saja oleh perkara yang
buruk, perkara yang baik itu akan hilang. Menghilang ditelan bumi. Seperti
peribahasa ‘Karena nila setitik rusak susu sebelanga’.
Oleh karena itu, alangkah baiknya sebelum melakukan sesuatu
hendaknya kita berniat terlebih dahulu. Setelah berniat pasti ada ‘tekad’ yang
mengiringi, bukannya ‘nekat’. Iya gak? ;-)

Posting Komentar